Nagabonar & Saya
Sore ini saya lewati dengan bernostalgia di 'theater XXI' bersama sang bunda.. saya pandangi semua gambar2 film yang ada.. sampai berhenti disatu gambar.. dengan dedi mizwar dan tora sudiro disana.. HA!! Nagabonar.. ok.. boleh dicoba.. kita harus mendukung hasil karya anak negeri juga bukan..? Dengan sedikit berharap (walaupun tetap tidak bisa berpura2 menjadi optimis) bahwa film Indonesia yang kali ini benar-benar punya arti cerita.. bisa menggelitik rasa.. bisa membuat rongga diparu saya berhenti sejenak.. persis seperti seluruh rasa saat saya lihat christine hakim sebagai seorang pejuang yang tidak pernah mau berkata 'kalah' di film Tjoet Nyak Dien..
Apa yang saya dapat..? Gerilya perang akan pertanyaan batin.. tundukan malu karena hina..
"Kalau kau berada pada jaman saya dulu, kamupun akan memberi hormat pada patung itu.." (Nagabonar)
"Apa ada pahlawan saat ini..?" (Saya)
"Turunkan Tanganmu Jendral.. Untuk siapa penghormatan itu kauberikan..?" (Nagabonar)
"Tundukan badanmu sedikit saat dia lewat.. dia yang mempengaruhi seberapa banyak nasi diperiukmu.." (Kegilaan Saya)
"Tegakkan badan saya..! Tegakkan badan saya..! saya ingin melihat sang merah-putih sampai pada puncaknya..!!" (Nagabonar)
"Gila.. upacara ini muali tidak masuk akal.. gila kalau aku sampai pingsan disini.." (Kesombongan Saya)
Betapa tipis rasa nasionalisme didada ini.. rongga tempat putaran nafas.. aliran darah.. Gila.. maafkan saya negaraku.. tapi... tidak tau lah...
