Hembusan angin itu seperti membelai sukmaku yang mulai tidak mengerti apa yang sedang dirasa.. Seperti ada ruang kosong yang tidak kunjung terisi.. atau mungkin tidak dapat diisi...? entahlah...
Tak terasa batang kedua sudah dapat kuakhiri... nikotin mulai meresap keseluruh butiran darah yang hidup dan menari dalam diriku... ahhh... siapa bilang nikotin hanya sebagai penenang itu sugesti semata...? ini nyata...
"Kau masih berhutang padaku..." gadis cilik disebelahku mengeluarkan suaranya..
"Untuk apa kamu ada disini... aku pantang berhutang selama ini... bualanmu makin lama makin memuakkan... pergilah..."
"Masihkah kau memalingkan wajahmu dariku...?"
"Kau hanya menggangguku... pergilah.. kumohon..."
"Hahaha... lucu..."
"Lucu...? tidak... tidak ada yang lucu... semua baik-baik saja... normal.... aku... aku baik-baik saja..."
Hirupan nikotin berikutnya kuharap dapat menlepaskan lelahku untuk duduk berdampingan dengan gadis ini... Apa yang sesungguhnya dia inginkan dariku...? Apa tidak ada manusia dewasa lain yang bisa dia ajak bicara...?
Kali ini dia yang datang... gadis kecil berambut keriting... usia baru 8 tahun.. tetapi banyak mempertanyakan kehidupanku... tau apa dia...?
Kemarin mereka datang beramai2.. Apa yang harus aku bicarakan dengan perempuan2 berumur 8 & 17 tahun...? hanya memekakkan telinga saja...
Tapi gadis yang datang 3 hari lalu cukup menghenyakkan pikirku... dia mirip sekali dengan diriku... sekitar 1 tahun lebih muda dariku... tapi kami lebih banyak berdiam diri... untuk apa berbicara terlalu banyak...
"Maya... Lihat aku..."
"Untuk apa...? pergilah... rokokku sudah habis.. aku hanya ingin tidur..."
"Untuk apa kau menolak kehadiran kami selama ini... lihat hidung ini... ini hidungmu 15 tahun yang lalu... ini rambutmu 15 th yg lalu... ini cupingmu 15 th yg lalu..... ini kamu 15 th yang lalu... Akankah kau selalu menolak dirimu sendiri...? kau dapat duduk tenang dengan dirimu 1 th yg lalu pada saat itu... mengapa tidak memulai pembicaraan itu...? aku tau kau menginginkannya..."
"sudah... sudah aku lelah..." kututup rapat-rapat kedua daun telinga ini... pedih mulai menjalar keseluruh bagian tubuhku... tak terasa air matapun mulai berjatuhan..
"Lihat aku may.. lihat aku.."
"Tidaaaaaaaaaaaaaaakkkk... pergiiiiii..... sakit..." isak tangisku seperti lagu yang mengalun membelah malam.. aku tidak bohong... sakit....
Dapat kulihat dari ujung mataku gadis itu mulai berdiri...
"Terserah kau may... kali ini aku akan pergi... tapi sampai kapanpun kami akan tetap datang menyambangimu... sampai kau dapat mengatakannya..."
"tidak ada yang ingin kukatakan..."
"Ada... kau hanya takut... selamat malam.. aku pergi dulu..."
Buraian air mata seperti menjawab dahagaku selama ini...
"Aku minta maaf... aku minta maaf...."